Rabu, 30 Maret 2016



MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA
( SUMBER KEJIWAAN AGAMA )
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
SURIANI
ADE FIZIYANTI
HAKIKI KA PUTRA
NURHASANAH
FAKULTAS            : TARBIYAH
PROGRAM             : PAI
SEMESTER            : VI _EKS B



INSTITUT AGAMA ISLAM DAAR AL ULUUM
ASAHAN_KISARAN
T.A
2015 / 2016



KATA PENGANTAR
Bismillahi al –rahmani al rahimi
            Segala puji hanya milik allah SWT. Diaah yang telah menganugrahkan al quran sebagai budan li-al nas (petunjuk bagi seluruh manusia) dan rahmat li al-al alamin (rahmat bagi segenap alam). Dialah yang maha mengetahui makna da maksud kandungan al quran. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, utusan dan manusia pilihan nya. Dialah penyampai, pengamal, dan penafsir pertama Al quran.
            Dengan pertolongan dan hidayah Nya-lah, penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN. Makalah ini sengaja di susun dengan harapan dapat di manfaatkan bagi pembaca, dan juga sebagai pemenuh nilai mata kuliah PISIKOLOGI AGAMA.
            Penulis berharap agar pembaca makalah ini memberikan kritik dan masukan yang positif serta saran saran nya untuk kesempurnaan makalah ini.















BAB 1
PENDAHULUAN
1.    Latar belakang masalah
            Manusia ingin mengabdikan dirinya kepada tuhan atau sesuatu yang di anggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia dadri yang paling primitive hingga yang paling modern.
            Pernyataan yang timbul adalah apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasarkan timbulnya keinginan untuk mengabdikan diri kepada tuhan  atau dengan kata lain “apakah menjadi sumber kejiwaan agama itu” dalam makalah ini akan di sajikan beberapa ahli psikologi yang mengemukakan pernyataannya mengenai sumber jiwa ke agamaan. Dalam makalah ini akan di uraikan secara singkat materi yang berkaitan dengan materi

2.    Ruang llingkup
            Materi yang berkaitan  dengan judul besar seperti :
a.       Sumber jiwa keberagamaan dalam pandangan psikologi
b.      Sumber jiwa keagamaan menurut teori kecerdasan spiritual
c.       Sumber jiwa keagamaan dalam ajaran islan



















BAB 11
PEMBAHASAN

A.  Sumber Jiwa Keberagamaan Dalam Pandangan Psikologi
            Ketika mengkaji psikologi agama, seseorang di hadapkan pada dua kata, yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya memiliki aspek kaijian yang sama yaitu aspek batin manusia. [1]Psikologi secara umum di artikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa, dan beradab (Jahaluddin,dkk,1979:77). Masih banyak lagi defenisi psikologi lain nya di kemukan para ahli . namun dari berbagai defenisi yang di kemukakan tersebut secara umum dapat di tafsirkan bahwa psikologi adalah sebuah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala gejala kejiwaan yang berbeda di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, untuk mempelajari kehidupan ke jiwaan manusia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak yaitu sikap dan tingkah laku yang di tampilkan nya.
            Menurut jahaluddin (2004:53-63) dan juga ramayulius (2004:25-37), hampir seluruh ahli psikologi sependapat bahwa apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia bukan hanya terbatas pada kebutuhan makan , minum, pakaian ataupun kenikmatan kenikmatan lainnya. Berdasarkan hasil riset dan observasi, mereka mengambil kesimpulan bahwa pada diri manusia terdapat semacam kebutuhan kebutuhan lainnya bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan. Keingan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati berupa keinginan untuk mencintai dan cintai tuhan.
            Berdasarkan kesimpulan di atas, manusia ingin mengabdikan diri nya kepada tuhan atau sesuatu yang di anggap nya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia dari yang paling primitive hingga yang paling modern.
            Pernyataan tersebut menimbulkan beberapa teori untuk memberikan jawabannya, antara lain :
a)      Teori monistik (Mono=satu)
            Teori monistik berpendapat bahwa sumber kejiwaan agama yang paling dominan hanyalah satu. Akan tetapi, sumber tungal manakah yang paling dominan tersebut telah terjadi perbedaan pendapat .
1)      Thomas van Aquino
            Sesuai dengan masanya,Thomas Aquino mengemukakan bahwa sumber kejiwaan agama ialah berpikir. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi kehidupan berpikir manusia itu sendiri.
2)      Fredick Hegel
            Hampir sama dengan pendepat yang di kemukakan oleh Thomas Van Aquino, Filosof Jerman ini berpendappat , agama merupakan suatu pengetahuan yang sungguh sungguh benar dan menjadi tempat kebenaran abadi. Berdasarkan hal itu, agama menjadi sesuatu atas persoalan yang sangat berhubungan dengan pikiran.
3)      Fredick Schleimacher
            Berlaianan dengan pendapat kedua ahli di atas fredick berpendapat bahwa sumber keagamaan adalah rasa ketergantungan yang mutlak . dengan adanya rasa ketergantungn yang mutlak manusia merasakan dirinya lemah. Contohnya manusia merasa tak berdaya menghadapai tantangan alam yang selalu di alaminya, sehingga mereka menggantungkan harapannya pada suatu kekuasaan yang di anggap mutlak. Rasa ketergantungan yang mutlak ini dapat di buktikan dalam realitas upacara keagamaan dan pengabdian para penganut agama kepada suatu kekuasaan yang mereka namakan tuhan.
4)      Rudolf otto
Menurut pendapat tokoh ini, sumber kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari the wholly other (yang sama sekali lain). Jika seseorang di pengaruhi rasa kagum terhadap sesuatu yang di anggap nya lain dari yang lain, keadaan mental seperti itu di istilahkan Numinous oleh R.otto . perasaan semacam itulah yang menurut pendapatnya di anggap sebagai sumber kejiwaan agama pada manusia.
5)      Sigmund freud
            S.freud menyatakan bahwa unsure kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama ialah libido (naluri seksual). Libido ini menimbulkan ide ketuhanan dan upacara ke agamaan setelah melalui proses.
6)      William Mac Dougall
Sebagai salah seorang ahli psikologi instink, ia berpendapat bahwa memang instink khusus sebagai sumber agama tak ada. Ia berpendapat, sumber ke jiwaan agama merupakan kumpulan dari beberapa instink. Namun demikian teori instink agama ini banyak mendapat bantahan dari para ahli psikologi agama. Alasan nya, jika agama merupakan instink, setiap orang tanpa harus belajar agama pasti akan terdorong secara spontan ke gereja, begitu mendengar bunyi lonceng gereja. Akan  tetapi, kenyataan nya tak demikian [2]

B.   Sumber Jiwa Ke Agamaan Menurut Teori Kecerdasan Spritual
            Teori fakulti atau teori kecerdasan ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia tak bersumber pada suatu factor yang tunggal, tetapi terdiri atas beberapa unsure, antara lain yang di anggap memegang peranan penting adalah fungsi cipta (reason), rasa (emotion), dan karsa (will).
            Demikian pula, perbuatan manusia yang bersifat ke agamaan di pengaruhi dan di tentukan oleh tiga fungsi tersebut .[3]
1.      Cipta ( reason)
            Cipta merupakan fungsi intelektual jiwa manusia yang tercermin dalam ilmu kalam (teologi). Melalui cipta, orang dapat menilai,membandingkan dan memutuskan suatu tindakan terhadap stimulus tertentu. Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat, terlebih lebih dalam agama modern, peranan, dan fungsi reason ini sangat menentukan.
            Fungsi berpikir sangat di utamakan . bahkan ada yang beranggapan bahwa agama yang ajaran nya tak sesuai dengan akal merupakan agama yang kaku dan mati.
2.      Rasa (emotion)
            Rasa adalah suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang. Namun demikian, jika rasa di gunakan secara berlebih , hal ini akan menyebabkan ajaran agama menjadi dingin.
            Untuk itu fungsi reason hanya pantas berperan dalam pemikiran mengenai supranatural saja, sedangkan untuk memberi makna dalam kehidupan beragama di perlukan penghayatan yang seksama dan mendalam sehingga ajaran itu tampak hidup.
3.      Karsa (will)
            Karsa menjadi fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Ia berfungsi mendorong timbulnya  pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan.. sejalan dengan fungsi reason dan emosi , fungsi will pun tak boleh berlebihan. Jika hal itu terjadi, akan terlihat tindak keagamaan yang berlebih pula.keadaan demikian akan menyebabkan penilaiann masyarakat terhadap agama tak akan mendapat tempat yang sewajarnya.
            Dari paparan diatas dapat di pahami bahwa tiga unsure tersebut berfungis antara lain :
a.       Cipta (reason) berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
b.      Rasa (emotion) menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
c.       Karsa (will) menimbulkan amalan amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.

C.   Sumber Kejiwaan Menurut Pandangan Islam
Didalam al quran sumber jiwa agama dapat di temukan dalam surat  ar ruum ayat 30 yaitu :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Yang artinya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (sebagai perwujudan dari) fitrah Allah (sifat-sifat Allah). (Allah) Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (hakekat semua ajaran agama-Nya ialah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, dengan menselaraskan kehidupan manusia kepada berbagai sifat-Nya dalam Asmaul Husna)" – (QS.30:30) .
       Ayat tersebut menyatakan bahwa secara fitrah manusia adalah makhluk beragama. Secara naluri manusia menyakini adanya tuhan yang maha kuasa. Di dalam manusia juga terdapat naluri untuk mencintai dan di cintai tuhan, keinginan tersebut akan terpenuhi dengan kegiatan beragama. Dari pernyataan di atas adalah tuhan.



























BAB 111
PENUTUP
1.    Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa kita pahami bahwa sesungguhnya agama yang patut kita pahami hanya agama dari allah saja yaitu islam  seutuh nya.

2.    Daftar pustaka
Ancok,Djamaludin dan Fuad Nashori Suruso, Psikologi Islam: Solusi Islam atas Problem problem Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,1994









[1]  Arifin bambang syamsul , Psikologi Agama,: Bandung  : Pustaka Setia (2008),hlm 11
[2] Arifin bambang syamsul , Psikologi Agama,: Bandung  : Pustaka Setia (2008),hlm 38-40

[3]  Arifin bambang syamsul , Psikologi Agama,: Bandung  : Pustaka Setia (2008),hlm 40-41

Tidak ada komentar:

Posting Komentar