MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA
( SUMBER KEJIWAAN AGAMA )
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
SURIANI
ADE FIZIYANTI
HAKIKI KA PUTRA
NURHASANAH
FAKULTAS : TARBIYAH
PROGRAM : PAI
SEMESTER : VI _EKS B
INSTITUT AGAMA ISLAM DAAR AL ULUUM
ASAHAN_KISARAN
T.A
2015 / 2016
KATA PENGANTAR
Bismillahi al
–rahmani al rahimi
Segala puji hanya milik allah SWT.
Diaah yang telah menganugrahkan al quran sebagai budan li-al nas (petunjuk bagi
seluruh manusia) dan rahmat li al-al alamin (rahmat bagi segenap alam). Dialah
yang maha mengetahui makna da maksud kandungan al quran. Shalawat dan salam
semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, utusan dan manusia pilihan nya.
Dialah penyampai, pengamal, dan penafsir pertama Al quran.
Dengan pertolongan dan hidayah
Nya-lah, penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul SUMBER JIWA
KEBERAGAMAAN. Makalah ini sengaja di susun dengan harapan dapat di manfaatkan
bagi pembaca, dan juga sebagai pemenuh nilai mata kuliah PISIKOLOGI AGAMA.
Penulis berharap agar pembaca
makalah ini memberikan kritik dan masukan yang positif serta saran saran nya
untuk kesempurnaan makalah ini.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.
Latar belakang masalah
Manusia ingin
mengabdikan dirinya kepada tuhan atau sesuatu yang di anggapnya sebagai zat
yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap
kelompok, golongan atau masyarakat manusia dadri yang paling primitive hingga
yang paling modern.
Pernyataan yang
timbul adalah apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasarkan timbulnya
keinginan untuk mengabdikan diri kepada tuhan
atau dengan kata lain “apakah menjadi sumber kejiwaan agama itu” dalam
makalah ini akan di sajikan beberapa ahli psikologi yang mengemukakan
pernyataannya mengenai sumber jiwa ke agamaan. Dalam makalah ini akan di uraikan
secara singkat materi yang berkaitan dengan materi
2.
Ruang llingkup
Materi yang
berkaitan dengan judul besar seperti :
a.
Sumber jiwa keberagamaan dalam
pandangan psikologi
b.
Sumber jiwa keagamaan menurut teori
kecerdasan spiritual
c.
Sumber jiwa keagamaan dalam ajaran
islan
BAB 11
PEMBAHASAN
A. Sumber
Jiwa Keberagamaan Dalam Pandangan Psikologi
Ketika mengkaji
psikologi agama, seseorang di hadapkan pada dua kata, yakni “psikologi” dan
“agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda,
meskipun keduanya memiliki aspek kaijian yang sama yaitu aspek batin manusia. [1]Psikologi
secara umum di artikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang
normal, dewasa, dan beradab (Jahaluddin,dkk,1979:77). Masih banyak lagi
defenisi psikologi lain nya di kemukan para ahli . namun dari berbagai defenisi
yang di kemukakan tersebut secara umum dapat di tafsirkan bahwa psikologi
adalah sebuah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia
sebagai gambaran dari gejala gejala kejiwaan yang berbeda di belakangnya.
Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, untuk mempelajari kehidupan ke jiwaan
manusia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak yaitu sikap dan tingkah
laku yang di tampilkan nya.
Menurut jahaluddin
(2004:53-63) dan juga ramayulius (2004:25-37), hampir seluruh ahli psikologi
sependapat bahwa apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia bukan hanya
terbatas pada kebutuhan makan , minum, pakaian ataupun kenikmatan kenikmatan
lainnya. Berdasarkan hasil riset dan observasi, mereka mengambil kesimpulan
bahwa pada diri manusia terdapat semacam kebutuhan kebutuhan lainnya bersifat
universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi
kebutuhan akan kekuasaan. Keingan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan
kodrati berupa keinginan untuk mencintai dan cintai tuhan.
Berdasarkan
kesimpulan di atas, manusia ingin mengabdikan diri nya kepada tuhan atau
sesuatu yang di anggap nya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi.
Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia
dari yang paling primitive hingga yang paling modern.
Pernyataan
tersebut menimbulkan beberapa teori untuk memberikan jawabannya, antara lain :
a)
Teori monistik (Mono=satu)
Teori monistik
berpendapat bahwa sumber kejiwaan agama yang paling dominan hanyalah satu. Akan
tetapi, sumber tungal manakah yang paling dominan tersebut telah terjadi
perbedaan pendapat .
1)
Thomas van Aquino
Sesuai dengan
masanya,Thomas Aquino mengemukakan bahwa sumber kejiwaan agama ialah berpikir.
Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan
beragama merupakan refleksi kehidupan berpikir manusia itu sendiri.
2)
Fredick Hegel
Hampir sama dengan
pendepat yang di kemukakan oleh Thomas Van Aquino, Filosof Jerman ini
berpendappat , agama merupakan suatu pengetahuan yang sungguh sungguh benar dan
menjadi tempat kebenaran abadi. Berdasarkan hal itu, agama menjadi sesuatu atas
persoalan yang sangat berhubungan dengan pikiran.
3)
Fredick Schleimacher
Berlaianan dengan
pendapat kedua ahli di atas fredick berpendapat bahwa sumber keagamaan adalah
rasa ketergantungan yang mutlak . dengan adanya rasa ketergantungn yang mutlak
manusia merasakan dirinya lemah. Contohnya manusia merasa tak berdaya
menghadapai tantangan alam yang selalu di alaminya, sehingga mereka
menggantungkan harapannya pada suatu kekuasaan yang di anggap mutlak. Rasa
ketergantungan yang mutlak ini dapat di buktikan dalam realitas upacara
keagamaan dan pengabdian para penganut agama kepada suatu kekuasaan yang mereka
namakan tuhan.
4)
Rudolf otto
Menurut pendapat tokoh ini, sumber
kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari the wholly other (yang sama
sekali lain). Jika seseorang di pengaruhi rasa kagum terhadap sesuatu yang di
anggap nya lain dari yang lain, keadaan mental seperti itu di istilahkan
Numinous oleh R.otto . perasaan semacam itulah yang menurut pendapatnya di
anggap sebagai sumber kejiwaan agama pada manusia.
5)
Sigmund freud
S.freud menyatakan
bahwa unsure kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama ialah libido (naluri
seksual). Libido ini menimbulkan ide ketuhanan dan upacara ke agamaan setelah
melalui proses.
6)
William Mac Dougall
Sebagai salah
seorang ahli psikologi instink, ia berpendapat bahwa memang instink khusus
sebagai sumber agama tak ada. Ia berpendapat, sumber ke jiwaan agama merupakan
kumpulan dari beberapa instink. Namun demikian teori instink agama ini banyak
mendapat bantahan dari para ahli psikologi agama. Alasan nya, jika agama
merupakan instink, setiap orang tanpa harus belajar agama pasti akan terdorong
secara spontan ke gereja, begitu mendengar bunyi lonceng gereja. Akan tetapi, kenyataan nya tak demikian [2]
B.
Sumber Jiwa Ke Agamaan Menurut Teori
Kecerdasan Spritual
Teori fakulti atau
teori kecerdasan ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia tak bersumber pada
suatu factor yang tunggal, tetapi terdiri atas beberapa unsure, antara lain
yang di anggap memegang peranan penting adalah fungsi cipta (reason), rasa
(emotion), dan karsa (will).
Demikian pula,
perbuatan manusia yang bersifat ke agamaan di pengaruhi dan di tentukan oleh
tiga fungsi tersebut .[3]
1.
Cipta ( reason)
Cipta merupakan
fungsi intelektual jiwa manusia yang tercermin dalam ilmu kalam (teologi).
Melalui cipta, orang dapat menilai,membandingkan dan memutuskan suatu tindakan
terhadap stimulus tertentu. Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu
kenyataan yang dapat dilihat, terlebih lebih dalam agama modern, peranan, dan
fungsi reason ini sangat menentukan.
Fungsi berpikir
sangat di utamakan . bahkan ada yang beranggapan bahwa agama yang ajaran nya
tak sesuai dengan akal merupakan agama yang kaku dan mati.
2.
Rasa (emotion)
Rasa adalah suatu
tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam
corak tingkah laku seseorang. Namun demikian, jika rasa di gunakan secara
berlebih , hal ini akan menyebabkan ajaran agama menjadi dingin.
Untuk itu fungsi
reason hanya pantas berperan dalam pemikiran mengenai supranatural saja,
sedangkan untuk memberi makna dalam kehidupan beragama di perlukan penghayatan
yang seksama dan mendalam sehingga ajaran itu tampak hidup.
3.
Karsa (will)
Karsa menjadi
fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Ia berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama
berdasarkan fungsi kejiwaan.. sejalan dengan fungsi reason dan emosi , fungsi
will pun tak boleh berlebihan. Jika hal itu terjadi, akan terlihat tindak
keagamaan yang berlebih pula.keadaan demikian akan menyebabkan penilaiann
masyarakat terhadap agama tak akan mendapat tempat yang sewajarnya.
Dari paparan
diatas dapat di pahami bahwa tiga unsure tersebut berfungis antara lain :
a.
Cipta (reason) berperan untuk
menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan
intelek seseorang.
b.
Rasa (emotion) menimbulkan sikap
batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
c.
Karsa (will) menimbulkan amalan amalan
atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.
C.
Sumber Kejiwaan Menurut Pandangan
Islam
Didalam al quran sumber jiwa agama dapat di temukan dalam
surat ar ruum ayat 30 yaitu :
فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Yang artinya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(sebagai perwujudan dari) fitrah Allah (sifat-sifat Allah). (Allah) Yang telah
menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui, (hakekat semua ajaran agama-Nya ialah keimanan dan ketaqwaan kepada
Allah, dengan menselaraskan kehidupan manusia kepada berbagai sifat-Nya dalam
Asmaul Husna)" – (QS.30:30) .
Ayat tersebut
menyatakan bahwa secara fitrah manusia adalah makhluk beragama. Secara naluri
manusia menyakini adanya tuhan yang maha kuasa. Di dalam manusia juga terdapat
naluri untuk mencintai dan di cintai tuhan, keinginan tersebut akan terpenuhi
dengan kegiatan beragama. Dari pernyataan di atas adalah tuhan.
BAB 111
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa kita pahami bahwa sesungguhnya agama yang
patut kita pahami hanya agama dari allah saja yaitu islam seutuh nya.
2.
Daftar pustaka
Ancok,Djamaludin dan Fuad Nashori Suruso, Psikologi Islam: Solusi
Islam atas Problem problem Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,1994
Tidak ada komentar:
Posting Komentar